SEJARAH WAYANG KULIT di INDONESIA dan CARA PEMBUATAN WAYANG di KOTA SOLO JAWA TENGAH
wayang kulit
Hai, guys bagi kalian yang penasaran nih tentang kebudayaan Indonesia
terutama tentang wayang kulit yang sudah tidak asing lagi di dengar. Berikut sejarah
tentang wayang kulit di Indonesia, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
First, ada satu hal yang harus kalian tau,
asal-usul dan perkembangan wayang tidak tercatat secara akurat seperti
sejarah. Namun orang selalu ingat dan merasakan kehadiran wayang dalam
kehidupan masyarakat. Wayang akrab dengan masyarakat sejak dahulu hingga
sekarang, karena memang wayang itu merupakan salah satu buah usaha akal budi
bangsa Indonesia. Wayang tampil sebagai seni budaya tradisional, dan merupakan
puncak budaya daerah.
Wayang kulit adalah seni pertunjukan yang telah berusia lebih dari setengah
milenium. Kemunculannya memiliki cerita tersendiri, terkait dengan masuknya
Islam Jawa. Salah satu anggota Wali Songo menciptakannya dengan mengadopsi
Wayang Beber yang berkembang pada masa kejayaan Hindu-Budha. Adopsi itu
dilakukan karena wayang terlanjur lekat dengan orang Jawa sehingga menjadi
media yang tepat untuk dakwah menyebarkan Islam, sementara agama Islam melarang
bentuk seni rupa. Alhasil, diciptakan wayang kulit dimana orang hanya bisa
melihat bayangan.
Menelusuri asal-usul wayang secara
ilmiah memang bukan hal yang mudah. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga kini
banyak para cendikiawan dan budayawan berusaha meneliti dan menulis tentang
wayang. Ada persamaan, namun tidak sedikit yang saling-silang pendapat. Hazeu berbeda pendapat
dengan Rassers begitu pula
pandangan dari pakar Indonesia seperti K.p.a.
Kusumadilaga, Ranggawarsita, Suroto, Sri Mulyono dan lain-lain.
Namun semua cendikiawan tersebut jelas
membahas wayang Indonesia dan menyatakan bahwa wayang itu sudah ada dan
berkembang sejak zaman kuna, sekitar tahun 1500 SM, jauh sebelum agama dan
budaya dari luar masuk ke Indonesia.
Second, banyak Wayang yang kita lihat
sekarang ini berbeda dengan wayang pada masa lalu, begitu pula wayang di masa
depan akan berubah sesuai zamannya. Tidak ada sesuatu seni budaya yang mandeg.
Seni budaya akan selalu berubah dan berkembang, namun perubahan seni budaya
wayang ini tidak berpengaruh terhadap jati dirinya, karena wayang telah
memiliki landasan yang kokoh. Landasan utamanya adalah sifat "hamot,
hamong, hamemangkat yang menyebabkannya memiliki daya tahan dan
daya kembang wayang sepanjang zaman.
Third, Periodisasi perkembangan budaya
wayang juga merupakan bahasa yang menarik. Bermula zaman kuna ketika nenek
moyang bangsa Indonesia masih menganut animisme dan dinamisme. Dalam
kepercayaan animisme dan dinamisme ini diyakini roh orang yang sudah meninggal
masih tetap hidup, dan semua benda itu bernyawa serta memiliki kekuatan.
Roh-roh itu bisa bersemayam di kayu-kayu besar, batu, sungai, gunung dan
lain-lain. Paduan dari animisme dan dinamisme ini menempatkan roh nenek moyang
yang dulunya berkuasa, tetap mempunyai kuasa. Mereka terus dipuja dan
dimintai pertolongan.
Berasal dari zaman animisme, wayang
terus mengikuti perjalanan sejarah bangsa sampai pada masuknya agama Hindu di
Indonesia sekitar abad keenam. Bangsa Indonesia mulai berseniuhan dengan
peradaban tinggi dan berhasil membangun kerajaan-kerajaan seperti Kutai,
Tarumanegara, bahkan Sriwijaya yang besar dan jaya. Pada masa itu wayang pun
berkembang pesat, mendapat pondasi yang kokoh sebagai suatu karya seni yang
bermutu tinggi.
Pertunjukan roh nenek moyang itu
kemudian dikembangkan dengan cerita yang lebih berbobot, Ramayana dan
Mahabarata. Selama abad X hingga XV, wayang berkembang dalam rangka ritual
agama dan pendidikan kepada masyarakat. Pada masa ini telah mulai ditulis
berbagai cerita tentang wayang. Semasa kerajaan Kediri, Singasari dan Majapahit
kepustakaan wayang mencapai puncaknya seperti tercatat pada prasasti di
candi-candi, karya sastra yang ditulis oleh Empu Sendok, Empu Sedah,
Empu Panuluh, Empu Tantular dan lain-lain. Karya sastra wayang
yang terkenal dari zaman Hindu itu antara lain Baratayuda, Arjuna
Wiwaha, Sudamala, sedangkan pergelaran wayang sudah bagus, diperkaya lagi
dengan penciptaan peraga wayang terbuat dari kulit yang dipahat, diiringi
gamelan dalam tatanan pentas yang bagus dengan cerita Ramayana dan
Mahabarata. Pergelaran wayang mencapai mutu seni yang tinggi sampai sampai
digambarkan "Hannonton ringgit menangis esekel", tontonan
wayang sangat mengharukan.
Menarik untuk kita perhatikan Cerita Ramayana dan Mahabarata yang asli
berasal dari India, telah diterima dalam pergelaran wayang Indonesia sejak
zaman Hindu hingga sekarang. Wayang seolah-olah identik dengan Ramayana dan
Mahabarata. Namun perlu dimengerti bahwa Ramayana dan Mahabarata versi India
itu sudah banyak berubah. Berubah alur ceritanya; kalau Ramayana dan Mahabarata
India merupakan cerita yang berbeda satu dengan lainnya, di Indoenesia menjadi
satu kesatuan. Dalam pewayangan cerita itu bermula dari kisah Ramayana terus
bersambung dengan Mahabarata, malahan dilanjutkan dengan kisah zaman
kerajaan Kediri. Mahabarata asli berisi 20 parwa, sedangkan di
Indonesia tinggal 18 parwa. ( artikel, cerita, kesusastraan Jawa Kuna ).
Yang sangat menonjol perbedaannya adalah
falsafah yang mendasari kedua cerita itu. Lebih-lebih setelah masuknya agama Islam.
Falsafah Ramayana dan Mahabarata yang Hinduisme diolah sedemikian rupa sehingga
menjadi diwarnai nilai-nilai agama Islam. Hal ini antara lain tampak pada
kedudukan dewa, garis keturunan yang patriarkhat, dan sebagainya. Wayang
diperkaya lagi dengan begitu banyaknya cerita gubahan baru yang bisa disebut
lakon "carangan", maka Ramayana dan
Mahabarata benar-benar berbeda dengan aslinya. Begitu pula, Ramayana dan
Mahabarata dalam pewayangan tidak sama dengan Ramayana dan Mahabarata yang
berkembang di Myanmar, Thailand, Kamboja, dan di tempat-tempat lainnya.
Ramayana dan Mahabarata dari India itu sudah menjadi Indonesia karena diwarnai
oleh budaya asli dan nilai-nilai budaya yang ada di Nusantara.
Di Indonesia, walaupun cerita Ramayana
dan Mahabarata sama-sama berkembang dalam pewayangan, tetapi Mahabarata digarap
lebih tuntas oleh para budayawan dan pujangga kita. Berbagai
Begitu pula para dalang semakin profesional dalam menggelar
pertunjukan wayang, tak henti-hentinya terus mengembangkan seni tradisional
ini. Dengan upaya yang tak kunjung henti ini, membuahkan hasil yang
menggembirakan dan membanggakan, wayang dan seni pedalangan menjadi seni yang
bermutu tinggi, dengan sebutan "Adiluhung". Wayang
terbukti mampu tampil sebagai tontonan yang menarik sekaligus menyampaikan
pesan-pesan moral keutamaan hidup. Dari landasan perkembangan wayang tersebut
di atas, tampak bahwa memang wayang itu berasal dari pemujaan nenek moyang pada
zaman kuna, dikembangkan pada zaman Hindu, kemudian diadakan pembaharuan pada
zaman masuknya agama Islam dan terus mengalami perkembangan dari zaman
kerajaan-kerajaan Jawa, zaman penjajahan, zaman kemerdekaan hingga kini.
Asal-usul wayang menjadi jelas, asli
Indonesia yang berkembang sesuai budi daya masyarakat dengan Wayang Indonesia
memiliki ciri khas yang merupakan jatidirinya. Sangat mudah dibedakan dengan
seni budaya sejenis yang berkembang di India, Cina, dan negara-negara di
kawasan Asia Tenggara. Tidak saja berbeda bentuk serta cara pementasannya,
cerita Ramayana dan Mahabarata yang digunakan juga bisa berbeda. Cerita
terkenal ini sudah digubah sesuai nilai dan kondisi yang hidup dan berkembang
di Indonesia.
Bentuk peraga wayang juga mengujudkan
keaslian wayang Indonesia, karena bentuk stilasi peraga wayang yang imajinatif
dan indah itu merupakan proses panjang seni kriya wayang yang dilakukan oleh
para pujangga dan seniman perajin Indonesia sejak dahulu. Begitu majunya dan
seni rupa, wayang sudah mencapai tingkat 'sempurna'. Penilaian ini obyektif,
tidak berlebihan, apabila dibandingkan dengan bentuk-bentuk peraga wayang atau
seni boneka dari mancanegara.
Pembuatan
Wayang Kulit Di Kota Solo Jawa Tengah
Jika Anda kebetulan sedang melintas di Kota Solo, mampirlah sebentar untuk menengok proses pembuatan Wayang Kulit di Kota Budaya ini. Letaknya masih dalam kompleks salah satu keraton terbesar di Nusantara. Yaitu Keraton Solo atau Keraton Kasunanan Surakarta.
Anda akan mendapati sebuah pasar
cindramata tradisional. Ditengah pasar inilah berdiri sebuah Sentra Pembuatan
Wayang Kulit. Yang bernama Balai Agung Kasunanan Surakarta. Tempatnya tak jauh
dari Keraton Solo, sekitar 500 Meter dari pusat keraton. Balai Agung ini
merupakan satu-satunya tempat pembuatan Wayang Kulit dibawah asuhan Keraton
Solo. Disini Anda bisa melihat secara langsung pembuatan Wayang Kulit. Mulai
dari pemrosesan kulit mentah, sampai proses finishing dan siap pakai.
proses pembuatan Wayang Kulit
tradisional ini biasa disebut Tatah-Sungging. Tatah (bahasa
Jawa) berarti memahat atau mengukir, dan Sungging berarti
mewarnai. Disebut Tatah-Sungging karena kedua proses ini
adalah proses pembuatan Wayang Kulit yang utama dan memakan waktu paling lama.
Proses :
1.
Balai Agung Kasunanan Surakarta biasanya
menggunakan kulit kerbau sebagai bahan dasar Wayang.
2.
lembaran kulit dipilih yang berkualitas.
3.
Kemudian digambar pola dasar tokoh
Wayang-nya, Tokoh-tokoh Wayang biasanya diambil dari jenis Wayang dimana
masing-masing jenis memiliki alur cerita tersendiri. Jenis-jenis Wayang
tersebut seperti Wayang Beber, Wayang Purwo, Wayang Gedhok, Wayang Madya,
Wayang Klithik, dan Wayang Mena.
4.
Selanjutnya, kulit yang telah digambar
pola tadi direndam dalam air sekitar 1 minggu.
5.
Kemudian kulit dikeringkan dengan cara
direntang dan diangin-anginkan. Proses pengeringan ini tidak boleh terkena
sinar matahari secara langsung.
7.
Kulit yang sudah
kering tadi dipahat dan diukir. Pengerjaan proses ini membutuhkan ketelitian
yang tinggi. Karena terdapat banyak sekali jenis ukiran dan pahatan, serta
ukurannya yang cukup kecil. Disamping itu, Tatah-an ini harus sesuai dengan
Pakem(aturan adat) dari Keraton Solo. Oleh karena itu, proses Tatah ini memakan
waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 2 minggu. Anda bisa melihat pengerjaan
Tatah yang mengagumkan ini secara langsung. Sebagai informasi, sebaiknya Anda
tidak mengajak bicara pengerajin yang sedang memahat pada proses ini
8.
Kulit yang telah dipahat sudah memiliki
bentuk tokoh Wayang. Namun belum berwujud utuh, melainkan bagian per bagian.
Bagian Wayang yang telah selesai dipahat ini kemudian per bagian.
9. Bagian Wayang yang telah selesai
dipahat ini kemudian dialihkan ke tahap berikutnya, yaitu Sungging. Sunggingan juga memerlukan ketelitian
yang cukup tinggi. Selain Kerumitan, ukuran, jenis, dan banyaknya ukiran, dalam
proses ini juga dipakai warna emas yang beragam. Seperti
emasGrenjeng, Bron, dan Prodo. Emas yang dipakai ini bukan cat atau
kertas yang berwarna emas, tetapi betul-betul emas. Biasanya berkisar sampai 18
karat. Emas-emas tersebut disesuaikan dengan jenis ukiran sertaPakem yang
berlaku.
Karena proses-proses inilah Wayang Kulit dijual dengan harga yang tak
murah. Yaitu sekitar Rp. 500.000,- sampai 10 juta rupiah. Harga tersebut
bervariatif, tergantung dari ukuran, jenis Wayang, dan banyaknya Sunggingan.
Sekian
informasi tentang sejarah wayang kulit dan cara pembuatannya. Semoga informasi
ini bermanfaat bagi andA dan setelah baca ini anda bisa lebih mencintai
kebudayaan di Indonesia terutama Wayang Kulit. Terimakasih.
DAFTAR
PUSTAKA :
http://supraba15.blogspot.com/2013/04/sejarah-asal-usul-wayang.html
https://www.facebook.com/notes/wayang-nusantara-indonesian-shadow-puppets/wayang-menurut-jenis-dan-asal-nya/10150300957581110
http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_kulit
https://www.facebook.com/asahotakk/posts/234410809988058
http://ajisetiaselamanya.blogspot.com
/2013/03/sejarah-wayang-kulit-di-indonesia.html
http://wisata.javaindonesia.org/jawa-tengah/pembuatan-wayang-kulit-di-kota-solo-jawa-tengah/














Komentar
Posting Komentar