Komunikasi Lisan dan Komunikasi Tulisan
Komunikasi Lisan dan Negosiasi
A. Komunikasi Lisan dalam Rapat
Di dalam suatu pertemuan dan dalam suatu rapat setiap
anggota atau peserta harus menyadari posisinya dalam forum tersebut. Tiap
peserta hendaknya:
– Mampu berperan sebagai
penyelaras yang sangat bijaksana dan adil namun tidak kehilangan pendirian.
– Mampu menjadi komunikator
yang berpartisipasi aktif namun tidak memonopoli pembicaraan.
– Mampu berkomunikasi secara
terbuka, jujur dan bertanggung jawab.
– Mampu menjadi komunikan yang
sangat responsive namun tidak emosional.
– Mampu mengontrol diri, dan
menghindarkan terjadinya debat serta tidak berbicara bertele-tele.
B. Komunikasi Lisan dalam Wawancara
Misalkan dalam suatu wawancara, kita melakukan komunikasi dengan
seorang yang diwawancara. Dalam wawancara tersebut, ada pihak yang lebih
mencondong memberikan pertanyaan. Wawancara biasanya dilakukan untuk
mengumpulkan data yang ingin kita dapat. Ada juga etika dalam berwawancara,
diantaranya adalah memperkenalkan diri terlebih dahulu. Kemudian kita sampaikan
maksud dari wawancara yang kita lakukan. Kita juga harus respect kepada orang
yang kita tanya sehingga ia merasa nyaman. Berikut ini ialah hal yang perlu
diperhatikan ketika melakukan wawancara:
1.
Gunakan volume suara
yang baik dan terdengar (berbicara tidak terlalu keras).
2.
Hindari bahasa menggurui
responden.
3.
Hindari sikap rakus.
4.
Fokus pada lawan bicara.
5.
Fokus pada pembicaraan.
6.
Tidak boleh memotong
pembicaraan.
7.
Lakukan verifikasi jika
ada kekurangan.
8.
Hindari kata-kata kasar
(kotor).
9.
Bersikap ramah.
10.
Jangan menyakiti hati
responden.
11.
Hidari tatapan yang
menyelidik/melotot/clingak-clinguk.
12.
Ucapkan terima kasih.
C. Komunikasi Lisan dalam Bernegosiasi
Sebagaimana kita cukup sering mendengar negosiasi diartikan sebagai proses yang
melibatkan upaya seseorang untuk merubah atau tidak merubah sikap dan perilaku
orang lain. Sedangkan pengertian yang lebih terinci menunjukkan bahwa negosiasi
merupakan proses untuk mencapai kesepakatan yang menyangkut kepentingan timabal
balik dari pihak-pihak dengan sikap, sudut pandang, dan kepentingan-kepentingan
yang berbeda satu sama lain. Negosiasi, baik yang dilakukan oleh seorang
pribadi dengan pribadi lainnya, maupun negosiasi antara kelompok dengan
kelompok (atau antar pemerintah), senantiasa melibatkan pihak-pihak yang
memiliki latar belakang berbeda dalam hal wawasan, cara berpikir, corak
perasaan, sikap dan pola perilaku, serta kepentingan dan nilai-nilai yang
dianut. Pada hakikatnya negosiasi perlu dilihat dari konteks antar budaya dari
pihak yang mela-kukan negosiasi, dalam artian perlu komunikasi lisan, kesedian
untuk memahami latar belakng, pola pemi-kiran, dan karakteristik masing-masing,
serta kemudian berusaha untuk saling menyesuaikan diri.
Agar dalam berkomunikasi lebih efektif dan mengena sasaran dalam negosiasi
bisnis harus dilaksanakan dengan melalui beberapa tahap yakni:
1. Fact-finding,
mengumpulkan fakta-fakta atau data yang berhubungan dengan kegiatan bisnis
lawan sebelum melakukan negosiasi.
2. Planning/rencana,
sebelum bernegosiasi/berbicara susunlah dalam garis besar pesan yang hendak
disampaikan. Berdasarkan kerangka topik yang hendak dibicarakan rincilah hasil
yang diharapkan akan teraih. Berdasarkan pengenalan Anda terhadap lawan tersebut,
perkirakan/bayangkan kemungkinan reaksi penerima pesan/lawan berbicara terhadap
apa yang Anda katakan.
3. Penyampaian, lakukan
negosiasi/sampaikan pesan dalam bahasa lawan/si penerima. Usahakan gunakan
istilah khas yang biasa dipakai oleh lawan negosiasi kita. Pilihlah kata-kata
yang mencerminkan citra yang spesifik dan nyata. Hindari timbulnya makna ganda
terhadap kata yang disampaikan.
4. Umpan balik,
negosiator harus menguasai bahasa tubuh pihak lawan. Dengarkan baik-baik reaksi
lawan bicara. Amati isyarat prilaku mereka seperti: angkat bahu, geleng–geleng
kepala, mencibir, mengaggguk setuju. Umpan balik dapat untuk mengetahui samakah
makna yang disampaikan dengan yang ditangkap lawan negosiasi bisnis kita.
5. Evaluasi, perlu untuk
menilai apakah tujuan berkomunikasi/negosiasi sudah tercapai, apakah perlu
diadakan lagi, atau perlu menggunakan cara-cara untuk mencapai hasil yang lebih
baik.
Meskipun pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik, bukan berarti hasil
yang diharapkan akan diperoleh sesuai dengan yang direncanakan semula. Yang
sering terjadi justru perbedaan pandangan terhadap cara penyelesaian masalah
antara pemberi dan penerima pesan. Sehingga diperlukan pembicaraan lebih
lanjut, yang memerlukan perjuangan tersendiri bagi pengirim pesan dalam
menyampaikan dan memenangkan pendapatnya.
Kalau terjadi adu pendapat antara negosiator dengan pihak lawan maka timbul
dorongan untuk menang. Keinginan untuk menang di satu sisi dengan mengabaikan
kekalahan dipihak lainnya, biasanya sulit tercapai. Untuk itu digunakan
strategi menang-menang (win-win solution). Artinya ada sebagian keinginan kita
yang dikorbankan dengan mengharapkan pihak lawan juga akan mengorbankan hal
yang sama, sehingga kesepakatan di antara kedua belah pihak dapat tercapai.
Komunikasi Dalam Tulisan
A. Penulisan Kabar atau Berita
Rumus menulis berita standar ini berdasarkan elemen atau unsur berita 5W+1H
(Who, What, When, Where, Why, How) atau Siapa, Apa, Kapan, Di Mana, Kenapa,
Bagaimana.
Berita adalah laporan peristiwa atau
catatan tentang sebuah kejadian. Sebuah peristiwa dipastikan mengandung keenam
unsur berita tersebut:
1.
WHO — SIAPA terlibat dalam peristiwa: pelaku, korban,
pemeran utama, peran pengganti, figuran, orang, lembaga, organisasi, dsb.
2.
WHAT — APA yang terjadi, kejadian apa, peristiwa naon,
acara apa?
3.
WHEN –KAPAN kejadiannya, iraha kajadianana, unsur waktu.
Biasa ditulis, misalnya, Senin (22/4).
4.
WHERE — DI MANA kejadiannya, tempat acaranya di mana,
unsur tempat. Biasa ditulis, misalnya, “di Depan Gedung Sate Jln Diponegoro
Bandung” atau “di Kampus UIN Bandung”.
5.
WHY — KENAPA terjadi demikian, apa penyebabnya, apa
latar belakangnya, apa tujuannya, mengapa itu dilakukan, dsb.
6.
HOW — BAGAIMANA proses kejadiannya, apa saja acaranya,
siapa saja pembicaranya, ada polisi gak, rusuh gak, damai-damai saja, diguyur
hujan, pemateri ngomong apa saja, dsb.
Cara Mudah Menulis
Berita
Berdasarkan unsur 5W+1H itulah saya membuat formula atau rumus mudah menulis
berita sebagai berikut:
·
WHO does WHAT, WHEN,
WHERE, WHY, HOW
·
(SIAPA melakukan APA,
KAPAN, DI MANA, MENGAPA, BAGAIMANA)
B. Penulisan Pesan-Pesan Persuasif
Persuasi merupakan suatu usaha mengubah sikap, kepercayaan atau tindakan
audiens untuk mencapai suatu tujuan. Secara sederhana, persuasi yang efektif
adalah kemampuan untuk menyampaiakan suatu pesan di dalam suatu cara yang
membuat audiens (pembaca atau pendengar) merasa mempunyai pilihan dan membuat
mereka setuju.
Meskipun kebanyakan pesan-pesan bisnis adalah rutin, namun dalam beberapa
situasi tertentu diperlukan pesan yang didesain untuk memotivasi atau memberi
persuasi kepada orang lain. Penyampaian pesan ini tidak hanya digunakan untuk
kepentingan internal organisasi namun dapat pula digunakan untuk kepentingan
eksternal organisasi seperti permintaan atau informasi yang bersifat
menyenangkan, atau kegiatan untuk mendapatkan dana dan kerjasama.
Pesan-pesan persuasif
bertujuan untuk mempengaruhi audiens yang cenderung mempertahankan ide atau
gagasannya. Pesan-pesan persuasif umumnya lebih lama, lebih rinci, dan
tergantung pada perencanaan strategis yang cukup ketat.
Adapun langkah-langkah
yang dapat dilakukan dalam menuliskan pesan-pesan persuasif antara lain :
1. Analisis Audiens
Penyampaian pesan-pesan persuasif yang terbaik adalah dengan cara menhubungkan
suatu pesan dengan minat dan hasrat audiens. Untuk mengakomodasi perbedaan
individual, maka perlu menganalisis audiens dan kemudian menyusun suatu pesan
yang dapat menjadi daya tarik bagi kebutuhan mereka. Cara yang paling mudah
dalam menilai kebutuhan audiens adalah dengan berpedoman pada teori kebutuhan
dari Maslow yang menyatakan bahwasanya manusia memiliki lima kebutuhan yang
sifatnya berjenjang. Dimana tiap-tiap kebutuhan memiliki kualitas atau tingkat
kepentingan yang berbeda-beda, mulai dari kebutuhan yang paling dasar hingga
kebutuhan yang paling tinggi tingkatannya.
2. Mempertimbangkan Perbedaan Budaya
Pemahaman terhadap perbedaan budaya yang ada bukan saja akan membantu dalam memuaskan
kebutuhan audiens, tetapi juga akan membantu bagaimana mereka akan memberikan
penghormatan. Memberikan persuasi untuk budaya yang berbeda akan berbeda cara
memberikan persuasinya.
3. Memilih Pendekatan Organisasional
Agar penyampaian pesan persuasif dapat tempat sasaran dan sesuai dengan apa
yang dikehendaki maka perlu diperhatikan cara penyampaiannya kepada audiens,
apakah menggunakan pendekatan langsung atau tidak langsung.
Penggunaan pendekatan organisasional baik langsung maupun tidak langsung dalam
penyampaian pesan persuasif harus mampu meyakinkan audiens bahwasannya pesan
tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki alasan.
Persuasi yang efektif mencakup empat
komponen penting, yaitu :
1. Menetapkan kredibilitas
Bagi seorang komunikator tingkat kredibilitas ditentukan oleh sejaumana tingkat
kepercayaan dan reabilitas dirinya. Kredibilitas adalah kapabilitas untuk dapat
dipercaya oleh orang lain. Cara yang digunakan untuk menumbuhkan kredibilitas
seseorang adalah dengan fakta, berupa dokumen, statistik, jaminan, dan hasil
riset yang menjadi bukti objektif yang mendukung kredibilitas seseorang.
Cara lain yang dapat dilakukan guna menambah kredibilitas seseorang adalah
menjadi seorang pakar atau ahli dalam bidang tertentu, antusias terhadap materi
yang disampaikan, objektif dalam penilaian sesuatu, sikap hormat dapat membantu
memfokuskan kebutuhan audiens, kejujuran dapat menumbuhkan penghargaan audiens,
intensitas yang baik akan membantu minat audiens, dan pengalaman latar belakang
baik sikap, kepercayaan sebelumnya dapat membantu mengidentifikasi audiens.
1. Membuat kerangka argumentasi audiens
Kerangka
argumentasi dapat dibuat berdasarkan rencana organisasional AIDA (Attention,
Interest, Desire dan Action).
a. Attention
(Perhatian), meyakinkan audiens dibagian permulaan bahwa ada sesuatu yang akan
disampaikan. Memperkenalkan suatu masalah atau ide yang membuat audiens mau
mendengar pesan-pesan yang akan disampaikan.
b. Interest (Minat),
menjelaskan relavansi pesan-pesan yang disampaikan dengan audiens.
Mengembangkan pernyataan yang telah disampaikan pada fase pertama secara rinci.
Menghubungkan pesan-pesan yang akan disampaikan dengan manfaat secara spesifik
yang dapat dinikmati oleh audiens.
c. Desire (Hasrat),
mengubah keinginan audiens dengan menjelaskan bagaimana perubahan yang
dilakukan dapat memberikan manfaat yang lebih baik bagi audiens, dan berusaha
untuk mengimplementasikan ide atau gagasan.
d. Action (Tindakan),
menyarankan tindakan spesifik yang diinginkan terhadap audiens. Perlu juga
dipikirkan bagaimana audiens akan memperoleh manfaat dari tindakan yang
dilakukan, serta menemukan cara agar tindakan tersebut mudah untuk dilakukan.
3. Memilih Daya Pemikat
Umumnya pesanpesan persuasif menggunakan daya pemikat dengan logika (logical
appeals) dan daya pemikat emosional (emotional appeals) untuk melakukan
persuasi audiens.
Kedua pendekatan ini
akan memiliki keseimbangan apabila tergantung pada tindkan yang diharapkan,
harapan para audiens, tingkat resistensi yang diatasi, kemampuan menjual ide
atau gagasan tersebut.
a. Pemikat Emosional
Dalam melakukan persuasi audiens, dapat memanfaatan emosi yang dilandasi dengan
suatu argumentasi atau dalam bentuk simpati kepada audiens sepanjang pemikat
emosional bersifat kuat. Dapat menggunakan kata-kata yang sangat berpengaruh
pada emosi seseorang seperti kebebasan, keberhasilan, nilai, penghargaan,
kenyamanan, dan keamanan.
b. Pemikat Logika
Dalam berbagai hal, penggunaan pendekatan ini dapat dilakukan seperti membuat
aduan (claim) dan memberikan dukungan atas aduan tersebut dengan memberikan
alasan dan bukti-bukti yang ada. Adapun penggunaan pendekatan ini didasari atas
berbagai alasan diantaranya :
· Induksi, adlah
memberikan berbagai alasan dari bukti-bukti spesifik menuju kesimpulan
umum.
· Deduksi, Pemberian
alasan dari yang bersifat umum untuk kesimpulan yang khusus.
c. Pertimbangan Etika
Persuasif dapat digunakan untuk mempengaruhi audiens dengan memberikan
informasi dan menambah pemahaman mereka dalam berbagai hal. Hal yang paling
penting dalam pendekatan ini adalah menunjukkan perhatian yang jujur kepada
audiens dengan memenuhi kebutuhan mereka.
A. Korespondensi (Surat Menyurat)
Korespondensi adalah penyampaian maksud melalui surat dari satu pihak kepada
pihak lain dapat atas nama jabatan dalam suatu perusahaan/organisasi dan dapat
atas nama perseorangan (individu). Kegiatan saling berkirim surat oleh
perseorangan atau oleh organisasi disebut surat menyurat atau korespondensi.
Pihak yang terlibat disebut koresponden.
Pengertian Surat
Surat adalah alat komunikasi tertulis untuk menyampaikan pesan kepada pihak
lain, yang memiliki persyaratan khusus yaitu penggunaan kode 2 notasi (lampiran
dan perihal), penggunaan kertas, penggunaan model dan bentuk, pemakaian bahasa
yang khas serta pencantuman tanda tangan.
Fungsi Surat:
·
Surat sebagai penyampai pesan
·
Surat sebagai wakil.
·
Surat sebagai bukti tertulis.
·
Surat sebagai pedoman/dasar bertindak.
·
Alat untuk mengingat.
·
Dokumen historis dari suatu kegiatan.
·
Keterangan keamanan.
Ciri-ciri Surat:
·
Surat adalah pesan
tertulis.
·
Isi pesan dalam surat
merupakan informasi/persuasi.
·
Surat memiliki
bagian-bagian yang standar.
·
Surat memiliki bentuk
yang standar.
·
Surat memiliki satu
pesan inti.
·
Gaya bahasa surat bisa
formal ataupun informal.
·
Pembagian Surat:
·
Penggolongan surat
menurut isinya
a. Surat dinas pemerintahan
Surat yang dibuat oleh badan pemerintah yang isinya berkaitan dengan pesan kedinasan. Contohnya Surat Keputusan, nota dinas, surat perintah dll.
· Surat bisnis
Surat yang dibuat oleh organisasi yang mencari keuntungan dengan kegiatan transaksi bisnis. Contoh surat pesanan, surat tagihan, surat lamaran kerja, surat gugatan, dsb.
Surat yang dibuat oleh organisasi yang mencari keuntungan dengan kegiatan transaksi bisnis. Contoh surat pesanan, surat tagihan, surat lamaran kerja, surat gugatan, dsb.
· Surat sosial
Surat sosial adalah surat yang lahir dalam aktivitas bisnis maupun kedinasan
yang isinya TIDAK BERKAITAN LANGSUNG dengan urusan bisnis. Surat sosial
berfungsi membangun citra nama baik antar sesama partner. Contohnya Surat
ucapan terima kasih, surat ucapan duka cita, surat undangan, surat dsb.
· Surat legal
Surat legal adalah surat-surat yang memiliki kekuatan hukum. Surat ini bisa berkaitan dengan kegiatan bisnis, dinas, maupun pribadi. Contohnya s. perjanjian, s. kuasa, s. wasiat, s. tugas, dan berita acara.
Surat legal adalah surat-surat yang memiliki kekuatan hukum. Surat ini bisa berkaitan dengan kegiatan bisnis, dinas, maupun pribadi. Contohnya s. perjanjian, s. kuasa, s. wasiat, s. tugas, dan berita acara.
· Surat pribadi
Surat pribadi adalah surat yang ditulis oleh seseorang kepada orang lain yang isinya berupa pesan pribadi dan bukan untuk kepentingan organisasi atau urusan resmi
Surat pribadi adalah surat yang ditulis oleh seseorang kepada orang lain yang isinya berupa pesan pribadi dan bukan untuk kepentingan organisasi atau urusan resmi
· Penggolongan surat
menurut tujuan
secara garis besar surat dibagi menjadi 2 jenis tujuan yaitu s. informatif dan s. persuasif.
secara garis besar surat dibagi menjadi 2 jenis tujuan yaitu s. informatif dan s. persuasif.
· Penggolongan surat
menurut wujudnya
Dalam wujudnya kita mengenal s. bersampul, kartu pos, warkat, telegram, e-mail, dsb.
Dalam wujudnya kita mengenal s. bersampul, kartu pos, warkat, telegram, e-mail, dsb.
· Penggolongan surat
menurut besarnya audien (orang yang dituju)
a. Satu orang
Contohnya S. Panggilan Kerja, S. Tagihan, S. Peringatan
b. Sekelompok orang
Contohnya S. Edaran, memo
c. Banyak orang
Contohnya S. Pengumuman, S. Semberitahuan,
a. Satu orang
Contohnya S. Panggilan Kerja, S. Tagihan, S. Peringatan
b. Sekelompok orang
Contohnya S. Edaran, memo
c. Banyak orang
Contohnya S. Pengumuman, S. Semberitahuan,
· Penggolongan surat
menurut urgensi penyelesaian
Menurut urgensinya, surat bisa dibagi menjadi
a. Sangat penting (harus segera ditindaklanjuti)
b. Penting (perlu ditindaklanjuti)
c. Biasa
Menurut urgensinya, surat bisa dibagi menjadi
a. Sangat penting (harus segera ditindaklanjuti)
b. Penting (perlu ditindaklanjuti)
c. Biasa
· Penggolongan surat
menurut kerahasiannya
Menurut kerahasiannya, surat bisa digolongkan menjadi
a.
sangat rahasia (hanya orang yang dituju yang boleh mengetahui adanya surat)
b.
Rahasia (hanya orang yang dituju yang boleh mengetahui isi surat.
c.
Konfidensial (hanya kalangan tertentu yang boleh melihat isi surat.
d.
Surat biasa
Studi
kasus yang penulis ambil ini berdasarkan sebuah film pendek mengenai
komunikasi organisasi yang berkembang dari era industrialisasi yang sangat
pesat pertumbuhannya pada tahun 1900-an dan mengambil kisah seorang tokoh
manajemen yang ingin mengembangkan ilmu komunikasi yang akan digunakan pada
organisasinya agar lebih efektif dan manusiawi.
Film ini diawali dengan pengenalan tokoh manajemen dan komunikasi, yaitu
Frederick Winslow Taylor asal Amerika Serikat yang menemukan masalah di
organisasinya untuk meningkatkan produktivitas dan efektivitas organisasi
tersebut. Salah satu masalah yang berkembang adalah masalah komunikasi
organisasi.
Dia akhirnya memutar
otaknya dan melakukan berbagai percobaan hingga akhirnya Frederick mendapatkan
ide emas. Dia akhirnya menciptakan sebuah kerja yang lebih terorganisasi dan
meningkatkan keuntungan dengan cara menemukan metode terbaik dan melakukan tes
mengulangnya lagi dan lagi sehingga organisasi lainnya memberikan apresiasi
yang tinggi padanya sampai semuanya menerapkan gagasan Frederick.
Max Weber dari Jerman
dan Henry Fayol dari Perancis yang menjadi sahabat Frederick juga mengembangkan
gagasannya. Max Weber dengan teori birokrasinya dan Henry dengan teori fungsi
manajemennya. Namun hal tersebut adalah sebuah kegagalan. Karena mereka berdua
menganggap manusia atau karyawan seperti mesin bukan manusia. Maka timbullah
masalah baru dimana para karyawan menuntut hak-hak mereka, mereka bukanlah
mesin dan mereka meminta perhatian untuk mendapatkan kepuasan dalam bekerja.
Setelah semua masalah tersebut muncul maka para ahli mulai meminta pendapat
pada seluruh karyawan untuk memberikan gagasan, ide dan mendengarkan lebih
banyak apa yang dibutuhkan dan lebih memuaskan karyawan. Maka dengan komunikasi
hal tersebut dapat dilakukan. Orang-orang di dalam organisasi mulai sadar
betapa pentingnya organisasi untuk mendapatkan ide-ide baru, memecahkan
masalah, mencapai integrasi yang baik dan mencapai tujuan dengan lebih efektif.
Permasalahan tidak sampai di sini, masalah kembali muncul dengan banyaknya
komunikasi yang tidak efektif yang berada di dalam organisasi besar sepertiinternational
corporate. Banyak orang yang berteriak mereka harus selalu bekerja tanpa
jalan keluar untuk terus bekerja. Mereka selalu merasa tertekan berada di
organisasi dengan hierarki, budaya dan tingkat pekerjaan yang tinggi tanpa
adanya kesenangan. Masalah-masalah inilah yang terus timbul dalam organisasi
saat ini.
Berdasarkan kasus tersebut, penulis melihat berbagai fungsi komunikasi yang
dapat diterapkan menggunakan pendekatan-pendekatan komunikasi organisasi sesuai
dengan masalah yang ada di dalam organisasi tersebut. Mulai dari masalah
kesulitan karyawan menyatakan pendapat maka dapat diterapkan fungsi informatif
dari komunikasi dimana setiap karyawan dapat dengan mudah mengakses informasi
di organisasi yang masih dalam wilayahnya sehingga mereka juga dapat memberikanfeedback berupa
pendapat mereka untuk kebaikan organisasi. Selain itu, fungsi ini juga bisa
memberikan ketenangan karyawan dalam hal gaji, jaminan kesehatan dan jaminan
hari tua sehingga karyawan dapat lebih produktif. Fungsi
regulatif komunikasi dapat diterapkan dalam hal perlu tidaknya seorang karyawan
melakukan suatu pekerjaan atau tidak, contohnya pemberian job
description yang jelas, pemberitahuan jam kerja efektif dan waktu
cuti. Fungsi persuasif ini juga dapat dikembangkan dalam organisasi karena
pasalnya masalah seperti karyawan yang merasa dirinya dianggap mesin, tidak
dihargai dan hanya dipaksa bekerja tersebut dapat dihilangkand engan
mengajaknya berdiskusi atau memberikan kata-kata
motivasi yang menumbuhkan rasa kepedulian terhadap atasan dan organisasi dari
pada hanya memaksa mereka memenuhi seluruh keinginan atasan.
Terakhir, fungsi integratif komunikasi ini yang sangat penting karena
organisasi dapat lebih kuat jika semua karyawan peduli pula terhadap
kelangsungan komunikasi. Penyediaan saluran-saluran yang memungkinkan karyawan
dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik perlu untuk diadakan
sehingga tidak ada lagi karyawan yang mengeluhkan adanya missed
comunication, ketidaksatuan visi, dan masalah antar unit
atau bidang di organisasi.
Setelah fungsi komunikasi telah dipaparkan di atas maka pendekatan-pendekatan
yang menurut penulis dapat diterapkan berdasarkan masalah-masalah di atas ialah
pendekatan sistem dan budaya serta pendekatan human relations. Mengapa
ketiga pendekatan komunikasi organisasi ini begitu vital? Karena menurut
penulis permasalahan organisasi yang memiliki masalah ketidaknyamanan karyawan
yang tidak dapat menyatakan pendapat dan tidak mendapatkan informasi dengan
penuh dapat terselesaikan dengan pendekatan sistem dimana nantinya dalam
organisasi tersebut dibuatkan sistem khusus yang dapat menampung seluruh
aspirasi karyawan, memberikan informasi pada mereka serta mengatur arus
komunikasi mereka secara efektif. Sistem komputer dan chatting baik
secara online maupun offline menjadi salah
satu sistem yang sering digunakan.
Pendekatan budaya dapat diterapkan pada permasalahan organisasi yang memiliki
berbagai macam karyawan dari multiras atau negara. Permasalahan ini dapat
diselesaikan dengan memberikan suatu dorongan yang membuat batas-batas budaya
tersebut menjadi pudar dan semua mau saling mendukung mencapai tujuan individu
melalui tujuan organisasi. Cara seperti membuat moto organisasi berdasarkan
budaya komunikasi organisasi tersebut juga menjadi salah satu cara yang
efektif.
Pendekatan human relations sangat erat dengan interpersonal
employees relation karena dengan pendekatan inilah para karyawan dapat
memperoleh haknya menjadi seorang manusia seutuhnya di dalam sebuah organisasi.
Karyawan akan merasa dihargai dan diberikan perhatian dengan adanya
pendekatan ini. Mereka tidak akan mengeluh mengenai gaji, waktu kerja dan
kondisi kantor organisasi tersebut. Namun pendekatan ini yang cukup menyita
biaya juga karena harus melakukan berbagai kajian dan penelitian tentang
bagaimana kondisi organisasi yang ideal untuk para karyawan.
Sumber:
1.
Nawangsari, Sri. 1997. Komunikasi
Bisnis. Jakarta: Gunadarma
2.
Purwanto, Djoko. 1997. Komunikasi
Bisnis. Jakarta: Erlangga
3.
Purwanto, Djoko. 2003. Komunikasi
Bisnis (2nd ed.). Jakarta: Erlangga.
4.
Purwanto, Djoko. 2011. Komunikasi
Bisnis (4th ed.). Jakarta: Erlangga.
Komentar
Posting Komentar